Seperti
biasa, Naruto sedang memegang mangkuk ramen, tiba-tiba mengeluarkan kepalanya
keluar dari kedai Ichiraku.
“Kakashi-sensei!
Kakashi-sensei!” teriak Naruto.
Disisi lain,
dari sudut pandang Kakashi, ia tidak merasa melihat Naruto. Setidaknya, tidak
untuk saat ini. Dan kemudian, Kakashi mulai membuka dan membaca buku
favoritnya, Icha Icha Tactic. Bab ketiga merupakan bab yang paling “Icha-Icha”
dari seri buku tersebut. “Diam saja dan ikutlah denganku!” ajak Naruto. Kakashi
pura-pura terhanyut dalam bacaannya, mencoba untuk mengabaikan komentar Naruto
dan membiarkannya bagaikan angin lalu.
“Kakashi-sensei
‘tebayo!” teriak Naruto sekali lagi. Yah, meskipun begitu, untuk seseorang
seperti Naruto, ia bukanlah tipe orang yang mengerti tentang sifat sentimentil
seseorang, apapun yang terjadi.
“Ada yang
salah? Aku terus memanggilmu… kau belum cukup tua untuk menjadi tuli, kan?“
ucap Naruto dengan kesal.
“Mm? Ah,
Naruto?” jawab Kakashi, padahal dalam benaknya ia menghela nafas. “Ah, maaf..
aku sedang bingung karena buku ini, jadi aku tidak memperhatikanmu.. Oh!
Bagaimana dengan tangan buatanmu?”
“Yah, masih
agak kurang pas, tetapi…” sambil Naruto bicara, ia dengan canggung
menggerak-gerakkan sumpit di tangan kanannya. “Aku juga tidak meminta terlalu
banyak kok – tebayo."
“Oh,
begitu.” sahut Kakashi.
“Selain itu,
Kakashi-sensei, kau masih belum melakukan upacara pelantikanmu?” tanya Naruto.
“Eh?”
Kakashi melangkah lebih dekat. “Yah, untukku, aku lemah untuk hal seperti itu.”
Belakangan
ini Kakashi ditanyai tentang hal tersebut kemanapun Ia pergi, dan Ia akan
sedikit menciut. Tentu saja, Kakashi sudah memantapkan dirinya untuk menjadi
Hokage. Bagaimanapun, bagi dirinya sendiri, Kakashi berpikir bahwa ia sudah
tidak memiliki kapasitas lagi sebagai seorang Hokage. Setelah upacara
pelantikan selesai, ia tidak dapat kembali lagi. Sekarang Perang Dunia Shinobi
Keempat telah selesai, jadi tak perlu untuk terburu-buru menjadi Hokage
selanjutnya, kan? Kakashi terus memikirkan hal itu dalam benaknya.
"Tetapi
bagaimana dengan Monumen Hokage, itu sudah selesai..” dengan menggunakan tangan
kanannya secara canggung, Naruto dengan bisingnya menyedot ramennya.
“Tapi semua
orang menantikan hal itu… pertama, siapa Hokage nya? Ini belum jelas, entah itu
dirimu atau Tsunade. Kau memberi contoh yang buruk kepada desa lain – tebayo.
Itulah inti dari pelantikan, kan?” jelas Naruto.
“Karena
Tsunade-sama juga masih sehat. Dan juga bagiku...“
"Untuk
Nenek Tsunade, dia sudah tidak cocok – tebayo.” potong Naruto. Naruto secara
terus terang menyatakan hal keterlaluan dan tak terpikirkan seperti itu.
“Akibat
perang terakhir kemarin, Nenek Tsunade berada di ambang kematian. Bagaimana
caranya, maksudku ada beberapa jenis pekerjaan yang tidak dapat ia kerjakan
secara maksimal.” ucap Naruto.
“Begitukah?”
sahut Kakashi.
“Kurasa jika
ia pergi tanpa tujuan di siang hari, dia mungkin minum sake... di tempat
perjudian mencoba untuk memulai perkelahian. Ini adalah perang untuk dirinya
sendiri di usia senjanya, tidakkah kau menyadarinya?” ucap Naruto sambil
tertawa.
“Hey, kenapa
kau harus membicarakan hal itu dengan antusias?” Hal ini bukanlah suatu bahan
candaan bagi Kakashi. Setelah mengatakan hal tersebut, dari belakang Naruto
muncul sebuah aura gelap haus darah yang tak biasa.
“Yah, Nenek
Tsunade memang memiliki penampilan yang masih muda, tetapi ini dapat dimengerti
bahwa ia secara bertahap akan menuju usia tua dan pensiun dalam waktu dekat,
yah untuk bersenang-senang.” tambah Naruto.
“Eh... Err,
seperti itu kah?” imbuh Kakashi.
Rasa haus
darah tersebut semakin meningkat. Kakashi menjadi bingung.
“Tsu...
Tsunade-sama, Aku rasa Ia masih mudah. Yeah. Kurasa begitu.” Kakashi gugup.
“Pada
tingkat apa? Walaupun dari jauh, kau tidak tahu atau tidak perduli akan hal
itu, tapi jika kau lihat lebih dekat, wajahnya itu dipenuhi oleh kerutan.”
imbuh Naruto lagi.
“Whaa!”
dalam pikiran Kakashi. “Jaga ucapanmu dan hentikan itu!”
Berbicara
tentang suara yang berlebihan... Naruto bahkan seharusnya tidak perlu untuk
berbicara tentang itu. Rasa haus darah itu semakin menjadi bertambah buruk.
“Mengapa kau
terlihat begitu kebingungan, Kakashi-sensei?” tanya Naruto.
Sepasang
mata yang mencolok bersinar dari belakang Naruto. Hanya Naruto yang tidak
menyadarinya.
“Aku tidak
dapat berbicara keras-keras. Belakangan ini, ia menjadi sangat pemarah.
Kelupaannya juga sangat menyeramkan.” ucap Naruto lagi.
Dalam
pikiran Kakashi “Matilah anak ini.”
Ketika
Kakashi menutup matanya, Ia tidak melihat tinju Tsunade mendarat di kepala
Naruto. Bam!! Suaranya bukan main, entah Kakashi ingin atau tidak, ia pasti
mendengarnya.
“Siapa yang
sangat pelupa?” kemarahan Tsunade menggema. “Aku menjadi pemarah, itu semua
karena kau yang membuatku begitu!”
Ketika
Kakashi membuka matanya, Ia melihat ada benjolan besar di kepala Naruto sambil
tersungkur di tanah.
“Kakashi!”
ucap Tsunade.
“Y...Ya!”
jawabnya. Karena mata Tsunade yang bersinar menatap mereka, suara Kakashi
menjadi terputus-putus. “A-Aku rasa Tsunade-sama masih cukup muda...”
“Kau masih
belum memutuskan tanggal pelantikanmu?” ucap Tsunade.
Hening...
“Keraguan
itu, aku mengerti betul.” ekspresi Tsunade melunak. “Karena aku juga pernah
merasakannya.”
“Ya...”
jawab Kakashi.
“Untuk
menjadi seorang Hokage, Kau tidak dapat hidup seperti yang kau inginkan
sebelumnya.” Tsunade menganggukkan dagunya ke arah Naruto yang sedang
tersungkur di tanah. “Juga cepat atau lambat untuk si idiot ini, tidak akan
bisa seenaknya sendiri.”
Kakashi
terdiam mendengarkan Tsunade berbicara.
“Rokudaime
Hokage bukanlah orang lain, tetapi hanya kau seorang.” ucap Tsunade. Naruto
memang telah menjadi kuat, tapi seperti yang kau lihat, ia masih belum memiliki
kaliber seorang Hokage. Selain itu, pada konferensi Lima Kage, bukankah sudah
diputuskan bahwa kau akan menjadi Hokage?”
“Karena pada
waktu itu, aku masih memiliki Sharingan” ucap Kakashi.
Hening...
“Semenjak
kehilangan Sharingan, aku juga tidak dapat menggunakan Raikiri....” ucap
Kakashi menambahkan. “Untuk Raikiri, itu karena aku memiliki penglihatan
kinetik dari Sharingan. Itulah kenapa aku dapat menyelesaikan jutsu tersebut.
Jika aku menjadi Hokage dengan keadaanku yang sekarang, bagaimana mungkin aku
bisa melindungi Konoha? Itulah yang aku pikirkan.”
“Kakashi...”
ucap Tsunade.
“Maafkan aku
Tsunade-sama... tentang diskusi ini. Tolong tunggu hingga misi kali ini
selesai.” dalam pikiran Kakashi.”Kau akan menjadi Rokudaime Hokage,
Kakashi....” ia terbesit perkataan Obito dahulu. Setelah itu, ia diberikan
Sharingan sebagai hadiah. “Buat apa aku ragu? Sejak awal Sharingan hanya
dipinjamkan padaku untuk waktu yang terbatas, kan? Ahh... mungkin, aku terlau
banyak bergantung pada Sharingan.” batinnya.
“Mungkin di
saat terakhir, baru dapat personil yang cukup. Tahun ini, sejak mereka bertugas
di Houzukijyou, Tim Guy dan Tim 10 Shikamaru terus berada di sana.” jawab
Kakashi.
“Houzukijyou...
tapi mereka harus cepat memutuskan siapa raja Kaisar untuk kastil itu.” imbuh
Tsunade.
“Untuk
mencari seorang master seperti Mui, mereka mungkin tidak akan banyak menemukan
seseorang sepertinya.” tambah Kakashi.
Beberapa
tahun sebelumnya, dengan strategi gabungan antara Konohagakure dan Kumogakure,
Houzukijyou ditumpas. Sebelum kastilnya dipulihkan dan para tahanan
dikendalikan dengan jutsu yang disebut Tenrou no Hijutsu (Jutsu Rahasia Penjara
Langit) oleh Kaisar kastil, Mui. Di tengah menjalankan strateginya, Mui
kehilangan nyawanya. Semenjak itu, Konoha, Suna, Kumo, Iwa dan Kiri, saling bergantian
untuk menjadi penjaga penjara.
“Untuk
Naruto, semenjak ia perlu menjaga desa, kali ini para Jounin akan menemaniku
dalam misi. Yah, karena kita hanya menjadi penjaga upacara, seharusnya tidak
ada masalah. Bahkan jika kapalnya terbang, itu masih tugas kita.” jelas
Kakashi.
“Hal ini
mengingatkanku, bukannya Guy berkata bahwa ia ingin melakukan misi ini? Dengan
kakinya yang seperti itu, iya tidak seharusnya berkata demikian.” kata Tsunade.
“Seperti
biasanya, ia hanya ingin melihat kapal terbang.” ucap Kakashi. “Jika ini Guy,
ia mungkin akan pergi ke Nami no Kuni (Negeri Ombak) dengan kursi rodanya.”
“Kapal
terbang... Cerita yang luar biasa, bukan? Saat ini, kelihatannya keberadaaan
Tobishachimaru adalah rahasia untuk negara lain, bagaimanapun...” ucap Tsunade.
“Ehh, ini
akan segera diketahui secara luas. Jika informasi tentangnya bocor, hal ini
akan segera diminta oleh tiap desa dari tiap negara. Mereka akan mencoba untuk
mencuri teknologi Tobishachimaru dari Nami no Kuni.” tambah Kakashi.
Sejenak,
dalam benak Kakashi, ia mengumpulkan semua pemikirannya. Mengenai izin dari
langit dan bagaimana sesama shinobi menipu satu sama lain, pembunuhan bersama
mungkin akan dimulai, atas hak ke langit.
sharingan kakashi kenapa bisa gaada lagi ya?
BalasHapus