Sangat sulit
bagi wanita itu untuk bernafas, bahkan untuk membuka matanya pun terasa berat.
Sakura tahu jika tubuh ini tidak akan bertahan lebih lama lagi
‘bagaimana
keadaan otou-san dan kaa-san jika anak satu-satunya ini meninggalkan mereka duluan?
Melihat wajah ayah yang menangis itu sangat berisik dan menyebalkan’
‘lagi pula
siapa yang akan mengacau suasana di rumah jika bukan aku. Siapa lagi yang akan
mementak ibu jika bukan aku? Ayah sangat lembek pada ibu, jadi dia tidak akan
berani seperti itu’
‘mereka
pasti kesepian dan kamarku akan dijadikan gudang. Heh.. itu sangat tidak lucu’
‘bagaimana
penampilan dan sikap Naruto saat menjadi hokage nanti? Aku ingin meihatnya’
Sakura
menangis dalam hatinya.
‘aku belum
sempat mengucapkan terima kasih pada otousan dan kaasan. Aku belum sempat mengucapkan
selamat tinggal pada semuanya’
‘selalu saja
seperti ini. padalah aku sudah berlatih sangat keras tapi hasilnya? sangat
mengecewakan’
‘masih
banyak hal yang ingin aku lakukan. Masih banyak hal yang ingin aku kejar. Masih
banyak.. sangat banyak..’
‘lalu..’
‘aku ingin
melihat Sasuke-kun bahagia. Setelah semua yang kami alami, akhirnya dia kembali.
Aku ingin melihatnya tersenyum bersama, hanya kami berempat. Kakashi-sense,
Naruto, aku dan pada akhirnya bukan hanya kami bertiga lagi. Tidak ada
pengganti Sasuke-kun lagi tapi benar-benar bersamanya… bersama Sasuke-kun…
seperti dulu’
‘aku
benar-benar tidak ingin mati’
'benar-benar.... tidak ingin'
Tubuh tua
itu terlihat tertidur pulas, namun kenyataannya jiwanya menangis. Sambil
berfikir tentang masa depan dan masa lalunya. Berfikir bahwa inilah yang
terakhir kalinya.
Dengan nafas
yang pelan sakura merasakan tangan dingin menyentuh wajahnya.
Sekuat
tenaga ia mencoba membuka mata.
Kabur.
Pandangannya
sangat kabur. Ia melihat bayangan seseorang. Ia mulai ketakutan. Ia berfikir
jika musuh akan segera mengabisi tubuh lemah yang sekarang menjadi wadah
jiwanya.
Perlahan
bayangan itu semakin membesar dan membesar. Warna merah terang itu juga ikut
membesar. Dan ia melihat dengan jelas, itu adalah mata. Mata dengan sharingan.
‘Sasuke-kun?'
.
.
.
.
Setelah
menerbangkan elang yang telah diikatkan surat dikakinya, Shikamaru bergegas
menyusul teman-temannya. Dari atas langit-langit istana yang hancur, ia mencoba
memahami situasi. Seketika ia melihat sesuatu yang menarik.
“Naruto”
Naruto yang
berada ditempat yang agak jauh dari Shikamaru mendengar panggilan dari alat
komunikasinya.
“ada apa
Shikamaru?”
“apa kau
melihatnya? Dengan mode sage kau pasti menyadarinyakan?”
“ehm.. ada
chakra yang besar di gerbang masuk ruangan ini. tapi, aku tidak tau itu apa.
Aku penasaran”
“aku
melihatnya. Tanda segel. Aku tidak yakin itu segel apa. Tapi, Hinata pernah
bilang kalau penglihatannya teeganggu saat melihat lebih dalam ketempat ini.
cobalah untuk membuatnya sibuk. Aku akan memikirkannya secepat mungkin”
Monster buas
itu kembali mengamuk.
“ada apa?
Kau akan menghindar lagi? Mengapa kau tidak menggunakan kyuubi dalam tubuhmu
itu itu?... Naruto”
Perkataan
itu membuat Naruto terkejut. Namun, sebisa mungkin ia tidak terhasut. Naruto
mulai menyerang lagi.
.
.
.
.
Shikamaru
mendekati Akamaru dan Kiba yang pingsan. Ia mencoba membuat Kiba dalam posisi
nyaman dengan kedua tangannya.
“Kiba.
Sadarlah”
Kiba
benar-benar pingsan dan Shikamaru yang menyadari bahwa tulang belakang Kiba
patah.
“Sial.
Sakura benar-benar mengerikan”
Ia menatap
Hinata yang bersusah payah melawan Sakura dan berteriak
“Hinata.
Berhenti. Menjauh darinya”
Hinata
mendengar perintah itu segera melakukannya tanpa menengok.
“kenapa? Apa
kau kelelahan? Aku bahkan belum mengeluarkan ninjutsu apapun pada kalian”
“SEKARANG
PERGILAH KALIAN KE NERAKA BERSAMA TEMPAT INI”
Ia pun
membuat tanja jutsu dengan cepat. Tentu saja hal ini membuat jantung Hinata dan
Shikamaru terasa putus.
.
.
.
.
Sasuke
meninggalkan tubuh layu itu dan berjalan dengan tantai ke sisi dinding ruangan.
Sekilas dinding itu terlihat biasa saja dengan getaran-getaran yang terasa.
Tentu saja getaran itu berasal dari bertarungan yang sedang terjadi. Ia sangat
tahu itu, namun membiarkannya.
Ia
menetapkan tangan kanannya ke dinding dan mendorong pelan dinding itu.
Sepanjang telapak tangan Sasuke dinding itu terdorong dan membukanya menjadi
sebuah gerbang kecil.
Disana
terdapat banyak gulungan tersusun rapi dengan gulungan utama yang besar di
tengah meja dengan lilin di sekitarnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar